tanahindie | Distorsi Objek dalam Seni Lukis
333
post-template-default,single,single-post,postid-333,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Distorsi Objek dalam Seni Lukis

(Tinjauan Kritis atas Strategi Artistik Penciptaan Seni)

Dunia seni telah menjadi kompetitif dan eksploitatif, dan bahwa fokus di dunia seni hanyalah pencarian keuntungan. Tidak hanya ini, untuk membatasi ekspresi artistik, mereka mengabaikan perhatian penting seni, yaitu estetika dan etika. – Suzi Gablik

Big Sale, karya Tjokorda Bagus Wiratmaja (foto dokumentasi: Firman Djamil)

Penciptaan seni yang mengambil Lingkungan Alam sebagai fokus penciptaan bagi seniman merupakan fokus yang sangat menarik dan menginspirasi. Fenomena alam melalui  peristiwa-peristiwa—baik yang diakibatkan oleh ritual alami melalui peristiwa alam yang menimbulkan bencana, maupun yang diakibatkan oleh intervensi manusia melalui eksploitasi—yang memberi konsekuensi kerusakan lingkungan. Baru saja kita semua mengalami masa naas letusan Merapi. Begitu juga dengan peristiwa Lumpur Sidoarjo yang diakibatkan oleh kelalaian manusia. Perusakan hutan Indonesia akibat eksploitasi (illegal logging) dan penguasaan Hak Atas Hutan oleh korporasi, sangat mempengaruhi iklim global karena hutan Indonesia (di samping hutan Brazil) merupakan penyokong nafas dunia lewat produksi O2 dan juga sebagai berfungsi menampung air dan menyerap efek rumah kaca. Hal lain yang menjadi masalah lingkungan di Indonesia adalah masyarakat konsumerisme yang menjalar sampai ke desa-desa. Konsumerisme memproduksi jutaan meter kubik sampah kemasan plastik tiap hari yang bermasalah pada ekologi.

Wacana di atas ditangkap oleh Tjokorda Bagus Wiratmaja sebagai fenomena yang dapat menjadi sumber inspirasi penciptaan karya seni lukisnya. Karya lukisan Tjokorda Bagus yang bertema “Distorsi Objek Dalam Seni Lukis”, salah satu yang dibahas pada seminar Penciptaan Seni II pada Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2010 lalu.

Dalam proses penciptaannya, Tjokorda mencoba mengamati fenomena alam tersebut yang memfokuskan pada kerusakan alam dan dampak sosialnya. Berdasarkan pengalaman empirik dan pengamatannya melalui media informasi, seperti siaran TV dan dokumentasi melalui rekaman DVD-Discovery Channel, Tjokorda menangkap kemungkinan artistik melalui distorsi bentuk pada objek-objek yang diamatinya. Distorsi bentuk tersebut akan diterjemahkan melalui interprestasi artistik untuk mewujudkan bentuk abstraksi ke dalam karya lukisnya.

Salah satu hasil karya Tjokorda berjudul “Big Sale”, merupakan karya yang tercipta dari hasil pengamatan atas kerusakan habitat Harimau. Tjokorda menangkap momentum artistik Harimau melalui belang kulitnya. Belang kulit Harimau ini di visualisasikan di atas kanvas melalui elemen garis, bentuk, warna, tekstur dan bentuk dalam irama ekspresif. Tjokorda menggunakan pula teknik palet sebagai upaya mengorganisir keutuhan visual yang harmoni. Selain itu, dalam pencapaian estetiknya, Tjokorda mempertimbangkan pula aspek proporsi, komposisi, volume terang-gelap, dan keseimbangan untuk mendekati konsep distorsi bentuk yang dikehendakinya, seperti pada makalah yang dituliskannya dalam konsep perwujudan karya.

Dalam menyimak pencapaian artistik karya-karya Tjokorda, pencapaian aspek visual terutama pada dukungan teknik palet dan eksplorasi medium cat pada kanvasnya tampaknya memiliki keunggulan tersendiri dari segi kualitas material. Namun dalam hal yang merujuk pada aspek penting penciptaan lain seperti visi seorang seniman dalam pencapaian estetik dan etika, yang diusung dalam berbagai pendekatan metodologi, konsep dan tujuan penciptaan masih harus didiskusikan lebih lanjut. Dalam strategi artistik seni lukis yang mengandalkan bentuk, warna, komposisi, dan tekstur, apakah cukup memiliki strategi dalam menjembatani visi seninya untuk memenuhi tanggung jawabnya bila menyertakan subject-matter pada  aspek alam dan lingkungan?

Sementara dalam perspektif penciptaan seni dan lingkungan yang dijadikan banyak seniman sebagai sumber penciptaan, hal terpenting yang menyertainya adalah aspek tanggung jawab yang berhubungan langsung dengan dilema persoalan lingkungan. Aspek tanggung jawab ini menjadi motif utama dalam penciptaan seni lingkungan mengalahkan aspek estetik maupun artistik lainnya yang ada pada penciptaan seni dalam bingkai modernisme.

Dalam penggunaan medium seni, Linda Weintraub dalam The Message of the Medium, Avant-Guardians: Ecology and Art at the Cultural Frontier-2006 yang dipublikasi oleh Greenmuseum.com mengemukakan: “Perpindahan pesan seni yang biasanya dianggap berasal dari medium fisik, estetika, dan kualitas metaforik, Seniman menambah kualitas keempatdampak lingkungan dan sosial dari pemanfaatan media”. Misalnya, apa dampak lingkungan dari manipulasi media? Apa dampak lingkungan dari karya seni yang dibuat dari media yang digunakan? Pesan ekologis dari pandangan Weintraub ini, menyampaikan secara khusus antara hubungan karya seni dengan basis sumber daya alam sebagai subject-matternya. Dan dalam penciptaan seni lukis apakah harus menyertakan kulit harimau sebagai bagian material yang digunakan pada proses penciptaan karya?

Penciptaan seni lingkungan memiliki karakteristik yang spesifik dalam metodologi dan strategi penciptaan karena berhubungan dengan sikap artistik seniman dalam menciptakan perubahan nilai yang tengah diperjuangkan sebagai agenda perubahan. Cara pandang estetik seni lingkungan justru berlawanan dengan prinsip-prinsip seni modern.

Cara pandang yang berlawanan ini dapat dipahami melalui Suzi Gablik. Gablik adalah seorang filsuf, kritikus, kurator seni dan penulis buku Has Modernism Failed? (2004). Gablik menyatakan: “Ketika saya pertama kali mulai menulis Has Modernism Failed? lebih dari dua puluh tahun yang lalu, apa yang saya ingin eksplorasi adalah relevansi nilai-nilai moral dan spiritual dalam sebuah masyarakat yang berorientasi pada produksi manik dan fiksasi dengan komoditas. Sejak itu, dunia seni saat ini tampaknya telah mendua menjadi dua paradigma estetika yang sama sekali berbeda, masing-masing berbeda tajam dalam pandangan mereka tentang makna dan tujuan seni.

Dalam contoh pertama, seniman yang terus mewartakan dan mendukung kemandirian seni yang menyimpang dari yang baik pada aspek sosial dan segala bentuk kesungguhan moral dengan keterpisahan sosial sebagai premis dasar pembuatan seni. Dalam contoh kedua adalah seniman yang ingin seni memiliki beberapa agenda yang layak di luar dirinya sendiri dan tujuan penebusan sosial.

Dalam kesempatan lain Gablik mengungkapkan dalam A New Front (Publikasi Online: Greenmuseum.com): “Dunia seni telah menjadi kompetitif dan eksploitatif, dan bahwa fokus di dunia seni hanyalah pencarian keuntungan. Tidak hanya ini, untuk membatasi ekspresi artistik, mereka mengabaikan perhatian penting seni, yaitu estetika dan etika. ‘Otonomi estetika adalah berakar dan mendalam’, sementara praktik seni menyiratkan gagasan keterpisahan otonomi moral dan sosial sebagai kondisi pembuatan seni”.

Menyimak pernyataan tajam Suzi Gablik di atas, bisa dipahami bagaimana seniman yang memfokuskan masalah lingkungan sebagai materi penciptaan karya-karyanya dalam bekerja. Seniman Lingkungan dalam proses penciptaannya menitikberatkan aspek kerjasama jaringan. Mereka bekerja bersama dengan orang-orang di sekitarnya untuk menggalang pemahaman lingkungan. Metode ini sebagai bagian dari strategi dalam mendidik lingkungannya dengan tujuan keluar dari masalah yang dihadapi. Dalam proses penciptaan seni lingkungan dikenal istilah Sustainable atau ide kerja berkelanjutan. Artinya karya yang dihasilkan adalah bukan hasil akhir, dan bentuk karya seninya tidak harus bertahan ratusan tahun yang memungkinkan untuk dijadikan komoditas jual beli barang antik. Seperti yang diungkapkan Gablik di atas, adalah penciptaan karya seni sebagai bagian dari penebusan dosa atas kerusakan alam yang telah dieksploitasi oleh sifat materialistik manusia.

Kembali kepada aspek lingkungan alam dan sosial yang menjadi sumber inspirasi penciptaan Tjokorda Bagus Wiratmaja atau seniman lainnya, termasuk saya. Sebaiknya dalam penciptaan karya seni menyadari adanya dua paradigma atau cara pandang estetika yang sedang berjalan bersamaan, dan keduanya saling berlawanan seperti yang digambarkan dengan baik oleh Suzi Gablik di atas. Ini berguna untuk menghindari gagasan penciptaan yang akan menjadi bercampur baur dalam proses dialektika pada muatan-muatan estetik dan etikanya. Supaya terjadi edukasi yang baik pada tataran visioner dari para pelaku seni beserta pendukungnya. Banyak seniman yang terinspirasi pada aspek kerusakan Lingkungan dan Alam dalam paradigma penciptaannya justru memberi kesan hanya mengeksploitasi objek alam tersebut. Seniman tidak memberi solusi pada objek yang diamati.

#Firman Djamil, alumni Pascasarjana Institut Seni Indonesia – Yogyakarta.
Anggota AiNIN : Artist in Nature International Network (www.ainin.org)
(www.firmandjamil.blogspot.com)

Tags:
No Comments

Post A Comment