tanahindie | EKSHIBISI
42
page-template-default,page,page-id-42,page-child,parent-pageid-15982,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

SOUNDSPHERE EDISI #1

Dalam pengertiannya sebagai ‘ruang’ (space) maupun ‘ranah’ (sphere), halaman rumah merupakan wilayah setiap individu (penghuni rumah) mendengar suara dari alam dan khalayak sekitar.

Secara langsung atau tidak, interaksi penghuni dengan halaman rumahnya berlangsung setiap hari. Lantaran rutinitas ‘mengalami’-nya itu, bisa jadi halaman rumah menjadi sesuatu yang rutin dan biasa.

Tanahindie mencoba lebarkan jangkauan proyek seni dan penelitian “Halaman Rumah”. Kali ini, merambah ke kalangan pegiat kancah musik dengan menggelar “Soundphere”, yang berlangsung dwibulanan.

Tujuan: (1) Mencari kebaruan perspektif dan model kerja dalam merespons halaman rumah melalui bunyi. (2) Melacak jejak apa saja yang menjadi unsur yang membangun, baik dari dalam maupun dari luar halaman rumah.  (3) Ruang pertemuan dan ruang kerja bersama (kolaboratif) antara pegiat musik, seni bunyi, seni visual, dan kalangan lain. (4) Membuka model kerja/presentasi baru untuk pegiat musik dengan kalangan lainnya.

BOM BENANG 2017 “BENANG DAN SUNGAI”

merupakan salah satu rangkaian program dari proyek “Halaman Rumah”, Tanahindie. Bom Benang kali ini mengusung tema “Benang dan Sungai”. Program ini hadir untuk merespons beberapa isu terkait sungai (Sungai Sinre’jala dan sekitarnya, pola perlakuan warga terhadap sungai, ruang sosial, kehidupan sekitar sungai, serta menginisiasi warga untuk membuat karya dengan memanfaatkan bahan sekitar yaitu bahan serat eceng gondok yang setiap hari disaksikan hilir mudik di Sungai Sinre’jala.

SESI BINCANG DAN PERTUNJUKAN “MATA/AIR: SENI, AIR DAN ISU LAINNYA”

Tanahindie – British Council – Makassar Biennale – The Ribbing Studio menggelar sesi bincang dan pertunjukan “Mata/Air: Seni, Air, dan Isu Lainnya” bersama Heather Lander, LBH Makassar, The Ribbing Studio, dan Teater Tangan – UPKSBS Universitas Muslim Indonesia.

Bersama itu Teater Tangan mementaskan kembali sebuah laporan pertunjukan teater Ku-Partai Batu #2: Repertoar Air, Karts, dan Sungai” pada Kamis, 18 Mei 2017, denting 19:30 WITA di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 193 E (Kompleks CV Dewi, samping Kantor Lurah Pandang) Makassar.

BOM BENANG 2016 “BENANG KANDUNG”

“Benang Kandung” (Yarn-Womb) berlangsung pada Mei – September 2016. “Benang Kandung” sejatinya adalah judul yang memplesetkan istilah kekerabatan seperti “anak kandung”, sebagai cara menunjukkan bahwa orang-orang bisa saling terhubung dalam ikatan yang karib, menggunakan medium benang, sebagaimana layaknya hubungan antara ibu dan anak.

Quiqui memilih tema ini dari endapan pengalaman sekaligus konsentrasi mereka terkait isu kekerasan dan keluarga. Mereka mencari 5 (lima) lokasi dan memfasilitasi terbentuknya kelompok warga melalui rangkaian lokakarya hingga kelompok tersebut siap berpameran. Mereka menemukan mitra kerja di lima komunitas, yakni (1) Jalan Sukaria 13 B, Kelurahan Tamamaung, Panakkukang; (2) Jalan Barukang III, Kelurahan Pattingaloang, Kecamatan Ujung Tanah; (3) Lorong Mawar, Jalan Toa Daeng 3, Kecamatan Manggala; (4) Jalan Rajawali, Kawasan Mariso Baru; dan (5) Jalan Barukang, Kelurahan Pattingaloang, Ujung Tanah.

BOM BENANG 2015 “KUNANG-KUNANG”

Kunang-kunang hanya bisa ditemukan di hutan basah. Dapatkah mereka hadir di hutan beton Jakarta? Tantangan inilah yang dijawab Quiqui, kelompok perajut dari Makassar, dalam perhelatan Jakarta Biennale 2015. Quiqui membawa “Kunang-Kunang” karya rajut mereka ke Penjaringan, wilayah permukiman padat di Jakarta Utara. Karya ini mereka pasang di ruang terbuka yang redup dan terabaikan. Dengan penyinaran ultraviolet, benang-benang rajut yang dibalur fosfor itu akan berpendar dalam gelap. Karya “Kunang-Kunang” hendak ingatkan publik tentang banyaknya keindahan yang hilang, akibat pengabaian maupun karena rusaknya lingkungan sekitar kita.

“R U LIKE” ART EXHIBITION: VIDEO ART AND DRAWING

Tanahindie mempersembahkan “R U Like”, pameran seniman seni video dari Korea Selatan, Kim Myoung-Woo, di Tanahindie Gallery, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E Makassar, pada 1-3 Agustus 2015, pukul 19.30 Wita.

Karya Kim Myoung-Woo dalam pameran ini merupakan hasil penelitiannya selama mengikuti residensi di Tanahindie sejak pertengahan Juli 2015. Lelaki kelahiran 1983 ini juga bakal berkolaborasi dengan Jasmine Isobel HB (6 tahun), murid Kelas B TK Ceria, Makassar. Kolaborasi karya drawingnya bersama Isobel ini merupakan cara Myoung dalam melihat Makassar dari perspektif lain.

The Makassar Impression

adalah pameran sketsa dan lukisan seniman Korea Selatan, Shin Hyeongman. Seniman spesialisasi lukis dan instalasi ini berpameran selama dua hari, 3-4 September 2014, di Wahana Tanahindie, di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E, Makassar.

Hyeong Man adalah seniman dari Gwanju, kota penting untuk melihat wajah Korea Selatan mutakhir. Selama ini, negara beribukota Seoul itu hanya dikenal lewat teknologi smartphone dan industri hiburan seperti lagu, film dan drama.

Sejak Juni hingga September 2014, Hyeong Man melakukan residensi di Tanahindie. Pameran ini merupakan bentuk interaksi lainnya tentang Makassar, sebelum ia kembali ke Gwangju pada pertengahan September 2014.

Proyek residensi  Shin Hyeongman terlaksana atas kerjasama Tanahindie (Makassar) dan Mite-Ugro-Zaza (Gwangju).

PAMERAN FOTO: LEMBARAN HALAMAN YANG HILANG

Pameran foto bertajuk “Lembaran Halaman yang Hilang” berlangsung di Kampung Buku, pada 27-30 Maret 2014. Ekshebisi ini menampilkan karya dari Sofyan Syamsul yang dikurasi oleh Anwar Jimpe Rachman. Dalam sesi diskusi pameran pada 28 Maret pukul 19. 30 Wita menghadirkan peneliti kawasan perkampungan nelayan (Sudarmono, kandidat PhD di UKM Malaysia) dan Liza Marzaman (Arkom Makassar).

PAMERAN FOTO: PANGGUNG DALAM BINGKAI

Dua pegiat foto pertunjukan musik, Reza Fahlevi Daud dan Muhammad Indra Gunawan,  berpameran di Kampung Buku. Pameran bertajuk “Panggung dalam Bingkai” ini dimeriahkan pula dengan penampilan akustik Theory of Discoustic dan Tabasco.

Dua hari acara ini digelar mulai pukul 19.00 Wita hingga selesai. Selain penampilan akustik dua band, pameran ini diramaikan obrolan seputar fotografi dan musik di Kota Makassar dengan narasumber Fachrul Rahman dan Andi Muhammad Ikhlas.