tanahindie | Bongyudongcheon Nujeongwon
16616
page-template-default,page,page-id-16616,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Bongyudongcheon Nujeongwon

Anita Syafitri Arif

 

13 x 20 cm | xii + 321 hal

 

Informasi-informasi tentang krisis iklim makin banyak masuk di gudang memoriku sejak aku terpilih menjadi satu dari 100 City Changer of Indonesia pada September 2014. Program ini diprakarsai oleh UN-Habitat. Di Indonesia, diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

 

Aku sedang bersantai dan bercengkerama, berdua saja dengan Sayangku Sung, di Bongyudongcheon Nujeongwon, taman surga kami. Kami menikmati Gyeong-gyeong musim dingin melalui kaca besar di salah satu dinding pondok ini. Namun, ingatan-ingatan krisis iklim menyelinap dan muncul, agak mengganggu suasana hatiku. Aku berupaya menepis mereka, namun mereka justru makin kuat muncul silih berganti.

 

Kepunahan Holosen atau kepunahan massal keenam atau kepunahan antroposen, sedang terjadi sejak tahun 11.000 SM hingga sekarang. Kepunahan ini adalah yang terparah di sepanjang sejarah Semesta yang dapat diketahui oleh para ahli sejarah, ahli spesies wilayah, ahli iklim maupun arkeolog.

 

Sejak awal abad ke-21 ini makin sering lagi kejadian bencana alam. Salah satunya yang paling kuat tersimpan di benakku adalah Gempa berkekuatan 9,3 Skala Ritcher di lepas pantai barat Sumatera pada hari Ahad 26 Desember 2004. Gempa tersebut disusul tsunami besar yang menewaskan lebih dua ratus ribu manusia, serta mengakibatkan hampir dua juta orang di 14 negara kehilangan habitatnya.

 

Sayangku memandangiku lekat-lekat. Tatapan matanya masuk ke sanubariku melalui mataku. Beliau dapat membaca pikiran dan perasaanku. Kedua tangannya terangkat dan memegang kedua pundakku. Sayangku mengalirkan energi cintanya pada tubuhku. Katanya, “Nita, don’t worry about this world. Just take good care of ourselves. Let’s enjoy our life, sayangku.”