tanahindie | Tim Kerja
16448
page-template-default,page,page-id-16448,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Anwar Jimpe Rachman menulis, meneliti, dan menyunting naskah ragam tema. Buku terakhirnya Rock In Celebes dan 100 Tahun Musik Populer Makassar (Tanahindie Press – Rock In Celebes, 2021). Beberapa tulisannya terbit di Kompas, Tempo, Esquire Indonesia, Jurnal Natar (FSRD IKJ), Jurnal Svara, Warisan Indonesia, Fajar, Tribun Timur, dan media cetak/elektronik lainnya.

Bekerja kurator seni rupa untuk Present Continuous / Sekarang Seterusnya (MACAN, 2021-2022), Jakarta Biennale (2015), dan Bom Benang (2012-2017). Sejak 2017 menjadi direktur Makassar Biennale.

Andi Hamina (lahir di Makassar, 1995) bekerja sebagai sekretaris di Tanahindie (Agustus 2022 – sekarang). Sebelumnya bekerja di Virtual Customer Support Specialist and Quality Analyst di Google Play Indonesia at Webhelp, APAC, Kuala Lumpur (April 2017 – Agustus 2022); liaison officer pada Asean Mayors Forum, LO pada 3rd BIMP EAGA (Brunei, Indonesia, Malaysia, and Philippines- East ASEAN Growth Area) & IMT – GT (Indonesia, Malaysia, Thailand- Growth Triangle).

Dianita Rusli (lahir di Makassar, 1995), belajar dan bekerja bersama Tanahindie sejak ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Trisakti pada 2017. Selama 2017-2020 menjadi pegawai kontrak di Dinas PU Kota Makassar.

Fitriani A. Dalay bekerja di Tanahindie sejak 2008. Sejak statusnya berubah menjadi ibu ia mendampingi anak perempuannya, Isobel, berpraktik unschooling. Di waktu senggangnya, Piyo merajut dan meracik kombucha. Di waktu-waktu khusus, ia membantu mengelola beberapa pameran sebagai kurator dan penulis buku.

Beberapa proyek yang pernah Piyo kerjakan bisa dilihat di sini.

Aziziah Diah Aprilya (b. Raha, 1997) adalah fotografer, penulis, dan pegiat komunitas. Saat ini, Zizi belajar dan bekerja bersama Tanahindie, institusi riset perkotaan. Tim kurator untuk Makassar Biennale (2023) dan kurator untuk Kawula Ria, pameran arsip 80-an (2022).

Karya fotonya pernah dipamerkan di Arkademy Project (Jakarta, 2022), Solo Photo Festival (2021), Kampung Buku (Makassar, 2019), dan Ruang MES56 (Yogyakarta, 2018).

Tulisannya juga terbit dalam buku “Kota Diperam Dalam Lontang” (Tanahindie Press, 2019), “Ramuan di Segitiga Wallacea” (Yayasan Makassar Biennale, 2020), dan Riwayat Gunung dan Silsilah Laut (Tanahindie, 2023). Karya lainnya bisa dikunjungi di situs aziziahprilya.com

Fauzan Al Ayyuby (lahir di Nabire 1994), belajar dan bekerja di Tanahindie sejak tahun 2016 hingga saat ini. Ia merupakan seorang pelompat jarak pendek lintas media: audio-visual yang dipresentasikan dari hasil penelitian dan pengamatan sehari-hari.

Menerbitkan kumpulan tulisan tentang Papua “Isyarat Pesan dalam Botol” (Penerbit Akasia, 2019), terlibat dalam penulisan “Halaman Rumah/Yard” (Tanahindie Press, 2017), “Gerakan Literasi Sekolah di Sulawesi Selatan” (Tanahindie, 2018), “Ramuan di Segitiga Wallacea” (Makassar Biennale, 2020), “Riwayat Gunung dan Silsilah Laut” (Tanahindie, 2023), serta sejumlah buku bersama. Tulisan-tulisan esainya yang membahas soal kehidupan sehari-hari tersebar di beberapa situs.

Saat ini ia bersama kawanannya di Nabire, Papua Tengah, bersama-sama membangun sebuah lembaga kajian kota bernama Kolektif Stereo.